MEMAKNAI DAN MENYIKAPI ORANG KAFIR

April072013
islam-cinta-damai.jpg

Islam mengajak umat manusia menuju jalan keselamatan, baik di dunia terlebih di akhirat. Islam adalah agama yang membawa misi ketauhidan, kemanusiaan, dan kedamaian dunia. Ajaran Islam sangat universal dalam lingkup ruang maupun waktu. Islam mengatur semua bidang kehidupan manusia, baik  yang mengatur hubungan seorang hamba dengan Allah subhānahū wa ta’ālā, maupun yang berkaitan dengan hubungan manusia terhadap sesamanya. “Rahmatan lil ‘ālamīn” inilah yang diusung Islam. Tidak ada  masalah dan konflik yang terjadi pada umat manusia, melainkan Islam memberikan solusinya. Kesempurnaan Islam disebutkan dalam Al-Qur’an, dalam firmanNya:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah:3).

Memahami Islam dengan benar dan komprehensif merupakan keniscayaan bagi setiap muslim. Sebab, wajah Islam akan benar-benar terlihat dan dirasakan ketika dipahami dengan benar. Jika Islam tidak dipahami dengan benar dan komprehensif, maka pasti akan menimbulkan berbagai macam kerancuan pemahaman yang tidak sedikit menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri dan hati nurani manusia. Memahami Islam dengan benar, maksudnya memahami Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik yang tercantum dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Karakter Utama Islam

Salah satu karakteristik agama Islam adalah “adil” dan “kasih sayang” (rahmat). Keadilan merupakan karakter utama dalam ajaran Islam. Allah menjadikan umat Islam sebagai umat ‘pertengahan’ (ummatan wasathan). Allah SWT berfirman:

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan”agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” (Al-Baqarah:2/ 143).

Islam sebagai agama yang adil, memerintahkan penganutnya berbuat adil dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk ketika menyikapi non-Muslim. Arti adil dalam konteks ini adalah mengukur sikap perilaku, dan menimbangnya sesuai dengan timbangan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Islam menjelaskan secara terperinci baik dalam Al-Qur’an maupun as-Sunnah  tentang bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap non muslim. Bahwa sebagai seorang muslim kita harus mencintai dan loyal terhadap Islam, adalah sebuah keniscayaan dalam beragama. Bahkan loyalitas (al-walā) dan rasa benci (al-barā’) adalah bagian dari sikap yang harus dimiliki setiap muslim. Kebencian terhadap beragam kekufuran dan kemusyrikan, karena keduanya adalah hal yang paling dibenci Allah. Namun demikian, hal itu tidak semestinya dan tidak bisa dijadikan alasan yang menyebabkan kita tidak berbuat adil kepada orang-orang non muslim. Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS Al-Maidah/5: 8).

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsīr dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum, jangan sampai membuat kita tidak bersikap adil terhadap mereka. Sebaliknya, kita hendaknya menerapkan keadilan kepada siapapun, baik itu terhadap teman maupun musuh. Oleh karena itu, Allah berfirman, Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa (Tafsir Ibnu Katsir, cet. Dār at-Thayyibah, th.1999, Juz. 3, hal. 62)

Non muslim itu sendiri terbagi dalam empat kategori besar: Pertama, dzimmy. Yaitu non muslim yang diberikan ijin tinggal di negeri kaum muslimin. Mereka berkewajban membayar jizyah (upeti). Kelompok ini tidak boleh diganggu, terlebih dibunuh selama masih menaati peraturan-peraturan yang dikenakan kepada mereka. Oleh karena itu, semua warga non muslim, yang tinggal bersama dengan kaum muslimin, dan mereka telah mendapatkan status kewarganegaraan adalah termasuk dalam kategori dzimmy, sehingga haram dibunuh.

Kedua, mu’āhad. Yaitu non muslim yang telah bersepakat dengan kaum muslimin untuk tidak berperang dalam kurun waktu yang telah disepakati. Kelompok ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang mereka menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Rasulullah SAW bersabda dalam Hadis ‘Abdullah bin ‘Amr riwayat Bukhari:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Siapa yang membunuh kafir Mu’āhad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”.

Ketiga, musta’man. Yaitu non muslim yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kelompok ini juga tidak boleh dibunuh sepanjang masih berada dalam jaminan keamanan. Oleh karena itu, warga asing non muslim yang datang ke Indonesia dan mendapatkan izin tinggal (Visa), termasuk dalam kategori ini. Mereka tidak boleh diganggu kehormatannya apalagi dibunuh. Terlebih mereka yang datang sebagai utusan negara, maka larangan untuk menzalimi mereka lebih ditekankan lagi.

Keempat, harby. Yaitu non muslim di luar tiga kelompok di atas. Mereka benar-benar memerangi kaum muslimin secara fisik, menyerang, dan menebar permusuhan. Kelompok inilah yang harus diperangi dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam.

Muamalah dengan Non Muslim

Sebagai makhluk sosial, kita pasti akan berinteraksi dengan sesama. Bahkan, di negeri yang heterogen ini, berinteraksi dengan non muslim adalah niscaya. Islam melarang umatnya menutup diri dari beraktivitas sosial dengan non muslim. Terlebih jika mereka adalah kedua orang tua kita atau kerabat, Islam menganjurkan untuk tetap berbuat baik kepadanya. Caranya, dengan menunaikan kewajiban sebagai anak dan atau saudara. Hal ini tentunya dengan menaati perintah mereka selama itu tidak bertentangan dengan hak-hak Allah SWT dalam Al-Qur’an dijelaskan:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS Luqmān:31/ 15).

Jika non muslim itu adalah tetangga kita, maka kita tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka. Ketika mendapat rizki, Rasulullah SAW tidak pernah lupa membaginya dengan tetangganya, meski beragama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa tetangga non muslim memiliki hak kenyamanan dan keamanan yang sama dengan tetangga muslim. Saling memberi makanan, selama bukan jenis yang diharamkan adalah  diperbolehkan. Tentu dengan memperhatikan  maslahat dan mafsadatnya.

Allah SWT menegaskan kebolehan kita berinteraksi sosial dengan mereka. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS al-Mumtahanah/60: 8).

Begitu banyak riwayat-riwayat shahih yang menjelaskan hubungan bisnis  Rasulullah dan para sahabatnya dengan orang-orang non muslim ketika itu. Ini menunjukkan betapa Islam memberikan keluasan pemeluknya untuk melakukan kerjasama usaha dengan non muslim, selama itu bersih dari berbagai bentuk kezaliman dan riba.

Beberapa Batasan

Berbagai keluasan yang diberikan Islam terhadap pemeluknya untuk berinteraksi sosial terhadap non muslim, bukan tanpa batas. Ini sesuai dengan karakteristik Islam yang selalu berada di tengah antara sikap ekstrem radikal dengan sikap yang terlalu meremehkan. Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati umat agama lain. Namun, Islam juga mengatur beberapa batasan. Untuk itu, tidak semestinya kerja sama atau interaksi sosial dengan non muslim mengorbankan prinsip-prinsip Islam. Menghormati perayaan hari besar non muslim adalah baik. Namun, sebaiknya penghormatan itu tidak sampai pada pelibatan yang berpotensi mencampuradukan dan atau melemahkan keimanan. Yang demikian jelas tidak diperbolehkan.

Dalam dosa dan pelanggaraan, Islam melarang umatnya untuk saling tolong-menolong. Allah  berfirman:

Tolong menolong lah kamu dalam kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. al-Mā’idah/5: 2).

Termasuk dalam pelibatan diri yang tidak perlu dilakukan adalah hadir dalam perayaan itu. Apalagi jika itu justru berpotensi pada polemik yang bisa memicu kepada perdebatan dan perpecahan. Mari kita saling menghormati dengan cara yang elegan dan tidak rentan konflik.

Kesimpulannya, kita harus membedakan antara berbuat baik kepada non muslim dan bersikap loyal kepada mereka. Tidak selamanya berbuat baik pada non muslim berarti harus loyal dengan mereka, terlebih jika harus mengorbankan prinsip agama. Kita wajib berinteraksi dan menjaga hubungan baik dengan mereka, namun semuanya harus sesuai dengan batas-batas yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Wallāhu a’lam.

* Penulis adalah Staff Litbang Kemenag RI

5 pesepakbola terkenal beragama Islam dan 4 pesepakbola non muslim yang mengagumi agama Islam

April072013
5 pesepakbola terkenal beragama Islam dan 4 pesepakbola non muslim yang mengagumi agama Islam  5 Pemain Terkenal Beragama Islam 1. Zinadine Zidane Dia adalah pemain berkebangsaan Prancis yang beragama Islam,tapi tahukah anda,bahwa walaupun Zidane beragama Islam,ia beribadah berbeda dengan para muslim lainnya,ia sholat tetapi dengan cara yang berbeda dibanding para penganut Islam didunia. 2. Mesut Ozil Bintang Madrid yang juga eks Werder Bremen ini merupakan... [Baca selengkapnya]

10 BINTANG AL-QURAN

March302013
^|| 10 BINTANG AL-QURAN ||^ (Bagaimana jika 10 anak kita hafal quran? Ini kisah nyatanya!) SAAT BANYAK ANAK MUDA YANG NGGAK JELAS TUJUAN HIDUPNYA SAAT BANYAK ORANG TUA YANG TAKUT TIDAK BISA MENDIDIK PUTRA PUTRINYA Ternyata masih ada teladan luar biasa bagi kita bersama. Subhanallah, jadi teringat buku yang sudah lama saya baca. Hari ini saya sharingkan untuk Sahabat. Ini adalah kisah nyata sebuah keluarga... [Baca selengkapnya]

Negara Terkaya Di Dunia Yang Luput Dari Perhatian

March262013
Negara Terkaya Di Dunia Yang Luput Dari Perhatian Banyak sebenarnya yang tidak tahu dimanakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan negera-negara di timur tengah. tidak salah sebenarnya, contohnya Amerika. negara super power itu memiliki tingkat kemajuan teknologi yang hanya bisa disaingi segelintir negara, contoh lain lagi adalah negara-negara di timur Tengah. Rata-rata negara yang tertutup gurun pasir dan cuaca yang menyengat itu mengandung... [Baca selengkapnya]

Fakta Ilmiah: Alasan Rasulullah Sangat Sayang Terhadap Kucing

March242013
ThumbnailDALAM perkembangan peradaban Islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan Islam. Diceritakan dalam suatu kisah, Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, dikala Nabi hendak mengambil jubahnya, di temuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.  Ketika Nabi kembali ke... [Baca selengkapnya]
 
Kembali ke Atas